بسم الله الرحمن الرحيم

Tugas Berdakwah Para Ulama

 

Di Pesantren Cigadog, Tgl: 9 Maret 2005

Guru Besar Fakultas Teologi Universitas Doshisha:

Hassan Ko Nakata

 Hari ini, saya ingin berbicara tentang “Tugas Berdakwah Para Ulama”.

 Terlebih dahulu, perkenankanlah saya untuk memperkenalkan diri. Saat ini, saya mengajar Agama Islam di Fakultas Teologi Universitas Doshisha Kyoto Jepang. Di samping itu, saya juga dipercaya menjadi anggota Dewan Direksi pada Yayasan Muslim Jepang. Demikian pula, Bapak Arif Rahman Oni yang hadir di sini, yang dipercaya menjadi wakil Indonesia untuk Yayasan Muslim Jepang.

 Di Fakultas Agama Islam Universitas Tokyo, saya mulai mempelajari Agama Islam dan pada akhir tingkat tiga, saya masuk ke Agama Islam. Setelah itu, saya pergi luar negeri untuk belajar ke Mesir, dan pada tahun 1992, saya memperoleh ijazah S-3 (Ph.D) di Fakultas Sastra Universitas Kairo dengan tesis yang bertema Filsafat Politik Ibn Taimiyah. Kemudian, saya bekerja di kantor Kedutaan Besar Jepang di Arab Saudi selama 2 (dua) tahun sebagai anggota penyelidik khusus, dan kembali ke Jepang mulai mengajarkan Agama Islam.  

 Dengan adanya pengaruh kolonialisasi oleh negara Barat, gerakan dakwah Islam berhenti di Filipina, tidak sampai ke Jepang. Sejarah Islam di Jepang selama 100 tahun. Pada zaman Meiji ketika agama Islam masuk ke Jepang, orang-orang Jepang pada umumnya tidak tertarik pada Islam, karena dunia Islam dijajah oleh negara Barat, dan karena pada saat itu, negara Jepang juga mengedepankan modernisasi dengan meniru cara negara-negara Barat.

 Oleh karena itu, orang Jepang yang menjadi muslim selama 100 (seratus) tahun ini, hanyalah sangat sedikit. Meskipun jumlah seluruh penduduk Jepang mencapai 120.000.000 (seratus dua puluh juta) orang, namun jumlah muslim hanya mencapai 70.000 (tujuh puluh ribu) orang dan di antara jumlah tersebut orang Jepang yang memeluk Agama Islam hanya berjumlah 7000 (tujuh ribu) orang, serta hampir seluruhnya adalah wanita-wanita yang menjadi muslim karena menikah dengan orang asing. Pemeluk Islam di Jepang adalah bukan sejak lahir, namun setelah dewasa barulah menjadi pengikut Islam atas kemauan sendiri. Kami yang hadir di sini, adalah semuanya seperti demikian.

 Mayoritas populasi muslim di Jepang adalah orang asing. Yang paling banyak adalah orang Indonesia, jumlahnya mencapai 20.000 (dua puluh ribu) orang. Hal ini, bukan hanya terjadi di Jepang, namun termasuk negara-negara ASEAN dan negara lainnya seperti Korea dan Hongkong, orang Indonesia juga menjadi pusat perhatian di masyarakat muslim. Padahal, tadinya orang India dan Pakistan yang menjadi pusat, namun saat ini orang Indonesia diberi kepercayaan dan seakan-akan menjadi pemimpin.

 Agama Islam adalah agama universal yang melebihi bangsa dan negara. Jika dikategorikan segi bahasa, maka bahasa Melayu-Indonesia menjadi bahasa terbesar setelah bahasa Arab. Artinya, muslim yang berbicara bahasa Arab mencapai 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta) orang, berikutnya muslim yang berbicara bahasa Melayu-Indonesia dan bahasa Urdu-Hindi masing-masing mencapai 200.000.000 (dua ratus juta) orang. Sesudah itu, muslim yang berbicara bahasa Persia, bahasa Turki, bahasa Bengal masing-masing mencapai 100.000.000 (seratus juta) orang dan muslim yang berbicara bahasa Rusia mencapai 50.000.000 (lima puluh juta) sampai di sini, jumlah seluruhnya mencapai 1.000.000.000 (satu miliar) orang. Meskipun jumlah pemeluk Islam disebut 1.200.000.000 (satu miliar dua ratus juta) orang, namun bahasa Indonesia termasuk salah satu bahasa yang terbesar seperti bahasa Arab dan bahasa Urdu. Jika melihat sebagai suatu bangsa, maka Indonesia adalah sebuah negara dengan jumlah pemeluk Islam yang paling besar di dunia.  

 Meskipun hanya dari jumlah penduduk tersebut di atas juga, kita dapat mengetahui betapa pentingnya kedudukan Indonesia dalam dunia Islam. Jika demikian, maka Indonesia harus menjadi pusat dakwah Islam di daerah Asia Timur. 

 Maka dari itu, orang Indonesia harus menjadi pemimpin dakwah, namun alasan ini bukan hanya karena jumlah penduduk saja. Alasan lainnya, adalah karena Indonesia tidak pernah disebut “ Negara Islam”. Indonesia adalah sebuah negara yang berdasarkan akidah dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”, bukan Islam. Artinya, Indonesia adalah sebuah negara yang berasaskan ajaran tauhid dari Allah, namun bukan sebuah negara yang mempraktekkan syariah Islam.

 Selama 10 tahun, Nabi Muhammad SAW berdakwah di Mekah hanya menyampaikan ajaran tauhid dan tak pernah mempraktekkan syariah Islam. Syariah tersebut baru mulai dilaksanakan di masyarakat muslim adalah setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, atau setelah Rasulullah memperoleh wewenang (wilayah) di Madinah sebagai pemimpin. 

 Pelaksanaan syariah ini, tidak mungkin dapat dipisahkan dengan wewenang khalifah sebagai pewaris Rasulullah. Barang siapa yang berhak memberlakukan syariah tersebut, adalah hanya khalifah sebagai pewaris Rasulullah. Ummatnya harus bersatu, dan khalifah pun harus satu orang saja. Dalam ajaran Islam, sama sekali tidak ada perbedaan seperti orang Indonesia, orang Arab dan orang Jepang. Ketika Rasulullah wafat, kaum Ansar yang tinggal di Madinah hendak memilih pemimpin sendiri, berlainan dengan kaum Muhajirin yang datang dari Mekah. Kemudian, Abu Bakar dan Umar berusaha mendamaikan hal tersebut dan akhirnya Abu Bakar yang menjadi khalifah. Sebagaimana sabda Rasulullah:

إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما

  “ Jika terpaksa dua orang khalifah dipilih, maka lebih baik kita membunuh salah satu di antara dua orang tersebut: Sahih Muslim)”.

 Jadi, demi keselamatan ummat, khalifah yang diangkat, hanyalah satu orang saja.

 Allah SWT adalah Tuhan semesta alam dan juga Tuhan pencipta bumi. Bumi adalah semuanya kepunyaan Allah dan di antaranya, sebuah tempat yang disampaikan ajaran Islam disebut “Darul Islam (rumah Islam)”. Darul Islam akan menjadi “Darul Hijrah”, yaitu jika orang-orang muslim mengalami penindasan kekuasaan atau kekerasan yang tidak adil, maka tempat tersebut akan menjadi sebuah tempat yang paling aman bagi orang-orang muslimin. Darul Islam tersebut, selalu bersedia menerima semua orang-orang muslim, tanpa perbedaan seperti orang Arab, orang Indonesia, orang Jepang. Tempat itu juga tidak akan terjadi masalah baik deportasi, maupun imigran gelap. Namun, apabila terjadi, maka rumah atau negara tersebut, jangan disebut sebagai Darul Islam lagi. 

 Adapun sebuah pemikiran di antara sebagian muslim yang ekstrim, di mana mereka ingin mendirikan negara Islam dengan kerangka negara yang ada, adalah salah. Dalam hal ini, tentang pembangunan negara Islam, atau lebih tepat disebut pesan Islam, yaitu rekonstruksi sistem khalifah adalah fard kifayah bagi semua muslim. Jika tidak demikian, maka pada hari kiamat nanti kita harus berhadapan di depan Allah sebagai orang yang berdosa.  Sebagaimana sabda Rasulullah:

من مات و ليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية

  “ Jika ada yang mati tanpa sumpah yang setia kepada khalifah, maka kematian tersebut dianggap sama dengan sebelum Islam datang: Sahih Muslim”  dan:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

 “Jika ada yang mati tanpa khalifah, maka kematian tersebut dianggap sama dengan sebelum Islam datang: Musnad Ahmad”. Jadi, jika tidak ada khalifah, maka Kita semuanya akan berdosa.

 Akan tetapi, masalah rekonstruksi sistem khalifah ini, tak mungkin dilakukan kecuali seluruh ummat akan memilih seorang khalifah untuk seluruh daerah Darul Islam serta mengatasi masalah kerangka negara yang sebagaimana kita bisa melihat di negara-negara Barat sekarang.

 Oleh karena itu, jangan dulu kita mencoba melaksanakan syariah terlebih dahulu sebelum dapat merekonstruksi sistem khalifah. Maka dari itu, sebaiknya dunia kita harus bersatu, manusia pun harus bersatu, dan kita harus menyampaikan soal keesaan Allah kepada semua manusia serta mencoba memecahkan tembok atau batas negara. 

 Dalam hal ini, menurut saya, Indonesia dapat dijadikan sebuah model dunia Islam. Dalam filsafat Pancasila misalnya, dianjurkan supaya pengikut ajaran Kristen, Katolik, Budha dan Hindu juga harus mengakui “Ketuhanan yang Maha Esa”. Hal ini, adalah suatu kesuksesan yang sungguh baik. Seperti diketahui, jumlah pengikut Hindu mencapai 8.000 (delapan ribu) juta dan pengikut Budha mencapai 3.000 (tiga ribu) juta.  Maka boleh dikatakan, Indonesia menjadi pemimpin untuk mereka kembali ke ajaran Tauhid dari Allah SWT.

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

 “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang Maha mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Qur’an 21:22)”

 Sebagaimana Allah SWT berfilman seperti di atas, kita dapat memahami keesaan Allah secara rasional, dengan alasan:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (Qur’an 16:125)”

 Maka kita dapat memberi keterangan kebenaran tauhid kepada kafir yang tidak mengetahui Islam dengan penjelasan secara rasional. 

 Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, siapa yang wajib menyampaikan ajaran tersebut adalah para Ulama. Rasulullah bersabda:

 “ Ulama adalah pewaris dari Rasulullah. (Sunan Al-Tirmidzi)”

 dan

 “Alim adalah orang yang menerima amanat-Nya di muka bumi. (Ibn Abdul Barr)”.

 Dengan demikian, kedudukan kiai menjadi sangat penting. Sebagai kiai, di samping mempelajari Islam, kita akan menjadi pengganti Rasulullah dan orang yang menerima amanat-Nya di bumi. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, barang siapa yang berhak memberlakukan syariah, adalah hanya khalifah. Maka, barang siapa yang berhak memberlakukan syariah kepada masyarakat secara paksa, dan barang siapa yang berhak menghukum orang yang bersalah, hanyalah khalifah.

 Namun, sebagaimana sabda Rasulullah: “Kalian semuanya adalah penggembala (راع), dan bertanggung jawab terhadap domba (مسؤل عن رعية). Komandan yang berdiri di atas orang-orang, adalah penggembala dan bertanggung jawab kepada bawahannya. Tuan rumah adalah penggembala keluarga dan bertanggung jawab kepada mereka, serta isteri adalah penggembala rumah suami dan anak, dan bertanggung jawab kepada mereka. Hamba adalah penggembala harta benda dan bertanggung jawab terhadapnya. Kalian semuanya menjadi penggembala, berarti kalian semuanya harus bertanggung jawab pada domba [Sahih Muslim]. 

 Semua muslim harus bertanggungjawab sesuai kemampuan. Ajaran tauhid, berarti ajaran secara logis, maka bagi kita menjadi kewajiban untuk berdakwah kepada semua muslim dan kafir. Akan tetapi, barang siapa yang dapat menyampaikan syariah, hanyalah ulama. Pengetahuan syariah ini menjadi berupa titipan kepada ulama dan hal itu disampaikan kepada orang-orang, akan menjadi kewajiban ulama. Oleh karena itu, ulama juga disebut pengganti Rasulullah dan orang yang menerima amanat-Nya di bumi.

 Ulama tidak memiliki wewenang di muka bumi. Ulama tidak memiliki wewenang seperti dilakukan oleh negara-negara modern yang mengumpulkan anak bangsa dan memberi ajaran ideologi. Ulama hanya memiliki dinamis kebenaran  dan dinamis ilmu. Pengaruh kebenaran atau pengaruh pengetahuan ini, bukan dilakukan secara paksa. Hal ini, akan timbul secara sendiri.

 Jika tidak memiliki wewenang, maka dengan apa, ulama akan menyampaikan dinamis kebenaran  dan dinamis ilmu kepada orang-orang masyarakat. Yaitu, terlebih dahulu adalah, mencintai orang dan dipercaya orang.

 Sejak sebelum diangkat sebagai Nabi, Muhammad juga disebut “Orang yang dapat dipercaya (Al-amin)”. Dan pada waktu Nabi Muhammad mulai berdakwah kepada orang-orang yang berhala di antara kaum Quraish di kota Mekah, terlebih dahulu beliau menyampaikan kepada mereka:

لو اخبرتكم ان خيلا بسفح هذا الجبل تريد ان تغير عليكم صدقتمونى

  “Saat ini, pasukan tentara berkumpul di kaki gunung ini, dan segera hendak menyerang kamu”, katanya, dan beliau langsung menanyakan kepercayaan mereka terhadap perkataan tadi.

 Bagi Ulama untuk mengajarkan ajaran kepada orang, terlebih dahulu dia harus mendapat kepercayaan dari orang tersebut. Hal ini, bukanlah segi bahasa, melainkan adalah prilaku atau perbuatan sehari-hari. Dalam bahasa Melayu disebut “Dakwah dengan perbuatan (dakwah bi-lhal)”.

 Atas dasar kepercayaan dari orang, maka timbullah rasa cinta kepada orang tersebut. Sebagaimana Nabi bersabda:

المرء مع من احب

“ Seorang itu selalu bersama dengan yang dicintainya”

 Seorang itu selalu hanya mengikuti atau mendengar perkataan dari yang dicintainya. Jadi jika ada ulama yang tidak dicintai oleh masyarakat, maka ulama tersebut tidak akan dapat menyampaikan pengetahuan kepada siapa-siapa. Hingga dia tidak dapat menyampaikan amanat-Nya. Jika demikian, maka sebaiknya para ulama pun harus mengikuti cara dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah seorang yang paling mencintai ummatnya. Pada hari kiamat nanti, Nabi Muhammad diberi sambutan dari Allah, “Mintalah, kamu akan diberi semuanya”. Namun, beliau tidak minta apa-apa, kecuali hanya minta keampunan dengan ucapan, yaitu  “Ummatku, ummatku”.

 Oleh karena itu, para kiai pun harus mendapatkan kepercayaan dari orang-orang/ masyarakat dengan perbuatan yang benar, dan harus mendapatkan perhatian dari masyarakat dengan cara pendekatan dengan selalu mencintai orang-orang. Dengan cara demikian, orang-orang masyarakat juga baru mulai mendengar ucapan dari para kiai, dan para kiai pun dapat menyampaikan dinamis kebenaran dan dinamis ilmu kepada orang-orang masyarakat.

 Maka dengan itu, semua kiai dapat memenuhi amanat-Nya dengan menyampaikan pengetahuan syariah, dan jika orang-orang masyarakat yang mempercayai kiai sudah mulai mendengar penjelasan syariah yang disampaikan oleh kiai, maka kiai itu pun baru dapat mengajak mereka untuk mentaati syariah dengan tidak memaksa, tetapi melalui kepercayaan mereka kepada pada kiai. Pada waktu itu, para kiai menjadi penggembala yang memiliki wewenang terhadap orang-orang tersebut, dan para kiai diwajibkan agar supaya orang-orang yang mempercayai kiai mentaati syariah. Jika dipaksakan syariah dengan tekanan fisik, maka hal ini menjadi tanggung jawab terhadap pihak tentara dan polisi. Pada hari kiamat nanti, tanggung jawab mereka dan kepercayaan orang-orang kepada mereka akan dituntut oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

  “ Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Qur’an 5:44).

 Sekiranya, Bapak-bapak kiai mengikuti cara dengan apa yang dilakukan oleh ulama-ulama besar senior dan terdahulu, dan berkewajiban mendapat kepercayaan dan perhatian dari orang-orang masyarakat. Sebab, pengetahuan syariah adalah sebuah amanat yang diserahkan dari Allah SWT dan tanpa ada kepercayaan dan perhatian dari orang-orang masyarakat, sang kiai pun tidak dapat memenuhi amanat penyampaian syariah sebagai pewaris Rasulullah. 

 Bapak-bapak kiai yang hadir di sini,  ada dua misi penting yang harus dijalankan:

 Yang pertama, ulama-ulama Indonesia harus menyampaikan ajaran tauhid ke seluruh dunia dan semua orang, yaitu dunia adalah satu, semua orang adalah bersaudara, dan hanya Allah-lah sebagai Tuhan semesta alam. Terutama, Indonesia yang berada di daerah Asia Timur.  

 Yang kedua, ulama-ulama menyampaikan syariah Islam kepada semua muslim dan berkewajiban untuk melalukan hal itu secara terhormat dan tanpa tekanan fisik. Serta jangan lupa pula salah satu tujuan kita untuk merekonstruksi system khalifah di muka bumi.  

 Rekonstruksi sistem khalifah, adalah terlebih dahulu ummat harus bersatu dan memilih salah seorang pemimpin (imam), kemudian disiapkan salah satu tempat Darul Islam, dan mengembangkan sistem khalifah ke seluruh dunia. 
 Dalam hal ini, misi yang kedua mempunyai hubungan erat yang tidak bisa dipisahkan dengan misi yang pertama. Sebab, untuk menjalankan syariah secara sempurna, terlebih dahulu harus ada sistem khalifah yang dapat memberlakukan syariah, namun hal ini tidak mungkin dapat dilakukan tanpa pembebasan manusia dari kekuasaan setiap negara, dan harus menyampaikan ajaran tauhid, yaitu di antara manusia tidak ada perbedaan seperti jenis suku, bangsa, bahasa, sejarah, kebudayaan, warga negara, bahkan semua orang adalah bersaudara, dan Allah SWT memberikan bumi ini untuk semua orang tanpa ada perbatasan negara dan sebagainya.  

 Terima kasih atas perhatiannya.


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين. والصلاة وسلام على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين